webmaster.ocarm@gmail.com | sekprov.oki@gmail.com

Sejarah

Ordo Karmel sudah mewarnai hidup Gereja selama lebih dari delapan abad. Sejarah Ordo Karmel bermula pada abad XII di Yerusalem dan kemudian bergulir terus hingga saat ini di berbagai belahan dunia.

Sejarah Awal di Gunung Karmel

Ordo Karmel berawal dari Gunung Karmel di Tanah Suci dekat kota Haifa, dekat sumber yang disebut dengan sumber Elia. Sekitar abad XII, banyak para pertapa dari Barat pergi ke Gunung Karmel untuk bertapa dan berdoa karena tebing-tebingnya yang hijau, lembah-lembah dan pemandangan yang indah ke arah Laut Tengah. Para pertapa yang tinggal di Gunung Karmel menghayati spiritualitas peziarahan ke tempat-tempat suci yang pada zaman itu dipandang sebagai sarana dalam mencari Kerajaan Allah. Mereka juga mengikat diri dengan kaul suci untuk memberikan suatu pelayanan kepada Kristus (Vivere in Obsequio Iesu Christi). Mereka mempunyai devosi yang besar kepada Bunda Maria. Mereka mempersembahkan sebuah kapel di Gunung Karmel kepada Bunda Maria. Mereka meyakini bahwa tempat di mana mereka mendirikan kapel biaranya itu adalah lokasi di mana gua Elia berada. Lokasi ini berada di ketinggian 1.700 kaki di atas laut pada sisi ujung barat laut pegunungan tersebut, dan memang tempat itu merupakan tempat tertinggi di seluruh pegunungan tersebut.

Kelompok yang berkembang ini kemudian menghubungi Albertus, patriark Yerusalem, untuk memintanya memberikan suatu pedoman hidup (regula). Albertus memberikan cara hidup tersebut dalam wujud formula vitae antara tahun 1206 – 1214. Dengan penulisan pedoman hidup ini, Santo Albertus menetapkan kelompok pertapa di Gunung Karmel menjadi satu persekutuan dan menempatkan mereka dalam suatu tahap transisi dari awam ke kehidupan religious.

Sejarah Karmel di Eropa

Ketenangan di Gunung Karmel terganggu oleh gejolak politik. Kerusuhan yang terus- menerus di tanah suci menyebabkan para Karmelit secara perlahan pindah ke Eropa. Sekitar tahun 1238, kelompok Karmelit pertama mulai berpindah ke Eropa. Pada awalnya, para Karmelit di Eropa mencoba meneruskan cara hidup eremit. Tetapi dalam masyarakat dengan peradaban kota zaman itu, hidup bertapa dalam bentuk murni dengan suasana sunyi seperti di Gunung Karmel hampir tidak mungkin dikembangkan. Para Karmelit di Eropa mencoba membuat pembaharuan hidup dengan meletakkan bobot pada kemiskinan, kesederhanaan, persaudaraan, sikap merakyat, dan solidaritas dengan kaum kecil. Cita-cita itu menjelma dalam pola hidup ordo-ordo mendikan (pengemis) seperti Fransiskan dan Dominikan. Lewat pembaharuan ini, para Karmelit memperoleh status sebagai Ordo Mendikan yang menimba inspirasi dari hidup Yesus Kristus yang peka terhadap kebutuhan rakyat kecil dan terjun langsung ke tengah masyarakat.

Pada abad pertengahan Gereja Katolik berkembang pesat. Melihat kebutuhan Gereja dan tuntutan jaman itu dimana ada banyak umat tetapi sedikit gembala, maka para Karmelitpun sebagian ditahbiskan. Hingga kini ada sebagian Karmelit yang adalah imam dan ada yang biarawan. Pada abad pertengahan ini pula timbul kesadaran untuk mempertobatkan banyak orang dan membaptis mereka ke dalam agama Katolik. Para Karmelit mulai melaksanakan misi ke berbagai belahan dunia di luar Eropa. Sebagian dari mereka pergi ke Indonesia dan menjalankan misi di sini, hingga lahirlah kemudian karya Karmelit di Indonesia.

Sejarah Karmel Indonesia

Pada tahun 1896-1923, para Imam Yesuit melayani daerah-daerah eks. Karesidenan Malang, Bondowoso, dan Madura karena wilayah tersebut termasuk bagian Vikariat Batavia (Jakarta). Pada tanggal 19 Februari 1923, Sacra Congregatio de Propaganda Fide di Roma menawarkan kepada Provinsi Karmel Belanda untuk mengambil daerah tersebut sebagai daerah misi Ordo Karmel. Tawaran ini diterima dan segera diadakan persiapan untuk mengambil alih wilayah pelayanan misi dari Serikat Yesus. Serah terima ini terjadi di Malang. 

Karya dan pelayanan para Karmelit mulai menampakkan hasil dengan adanya para calon dari putra Indonesia. Pada tahun 1929, berangkatlah Gerardus Majella Singgih Padmowijoyo ke Belanda untuk memasuki masa novisiat di Boxmeer. Beliau ditahbiskan menjadi imam Karmelit Indonesia yang pertama pada tanggal 11 Juli 1937.

Melihat adanya perkembangan pesat yang dialami Indonesia, Curia Jenderal di Roma menilai bahwa sudah waktunya untuk meningkatkan status Karmel Indonesia menjadi Komisariat Jenderal pada tahun 1960. Kemudian setelah melalui persiapan selama tujuh tahun sebagai Komisariat Jenderal, pada tahun 1967 Ordo Karmel di Indonesia ditingkatkan statusnya menjadi Provinsi. Setelah menjadi provinsi, Ordo Karmel Provinsi Indonesia membuka banyak ladang baru di berbagai wilayah Keuskupan.