webmaster.ocarm@gmail.com | sekprov.oki@gmail.com

Spiritualitas

Spiritualitas adalah sesuatu hal yang diyakini dan dihayati dalam hidup dan yang menjadi pendorong seseorang dalam bertindak dan bersikap di dalam kehidupannya. Spiritualitas ada yang sifatnya pribadi, dimiliki oleh masing-masing individu dan ada yang dimiliki oleh sekelompok orang secara bersama-sama. Ordo Karmel, sebagai kelompok, memiliki spiritualitasnya, yang lazim disebut spiritualitas Karmel. Spiritualitas Karmel dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Mengikuti Yesus Kristus dengan mengembangkan sikap dasar hidup dan berpusat pada Allah dalam hadiratNya (kontemplasi) dan sikap dasar pesaudaraan juga dengan orang-orang lain dalam semangat Maria dan Elia yang merupakan teladan serta inspirasi bagi setiap anggota Ordo Karmel.”

Definisinya cukup panjang tetapi sebenarnya isinya dapat dibedakan jadi tiga. Yang pertama adalah unsur-unsur utama spiritualitas yang terdiri dari kontemplasi dan persaudaraan; yang kedua adalah tindakan mengikuti Yesus; dan yang terakhir adalah keteladanan Maria dan Elia.

Kontemplasi adalah sikap dasar hidup bersumber dan berpusat pada Allah; hidup di hadirat Allah; dalam persatuan mesra dengan Allah; “Vacare Deo” (bersemuka dengan Allah). Dalam kaitannya dengan kontemplasi, panggilan Karmel dilukiskan sebagai suatu persembahan kepada Allah hati yang suci sambil berusaha menjadikan diri mampu menerima anugerah Allah, tidak hanya sesudah kematian, melainkan sudah semenjak sekarang dalam hidup ini mencicipi dalam hati dan mengalami dalam Roh, daya kekuatan Ilahi serta kemanisan kemuliaan surgawi. Jadi kontemplasi di sini tidak berarti lari dari dunia dan berdoa dalam kesunyian, meski betapa pun besar nilai dan peranan tindakan tersebut. Kontemplasi lebih mengarah pada tindakan terjun ke dalam dunia untuk mencari dan menghayati kehadiran Allah yang hidup dan benar, yang bergaul dengan kita dalam Kristus.

Hadirat Allah yang Hidup

Mazmur 42 mengungkapkan keriunduan jiwa manusia akan Allah, “Seperti rusa yang merindukan air, demikianlah hatiku rindu akan Dikau, Tuhanku.” Para karmelit awali berkumpul bersama di gunung Karmel karena disatukan oleh kerinduan akan hidup di hadirat Allah. Mereka terinspirasi oleh perkataan Elia, “Allah hidup, di hadiratNya aku berdiri.” Inspirasi dan kerinduan ini dihidupi oleh para Karmelit hingga saat ini. Mereka berusaha untuk selalu berada di hadirat Allah, vacare Deo, dalam setiap langkah kehidupan mereka.  Mereka berusaha mencari dan mengenali Allah dalam kehidupan mereka sehati-hari. Usaha itu sifatnya sangat personal tergantung seberapa besar usaha untuk menemukan Dia dan untuk tinggal di dalamNya.

Hidup Berpusat Pada Kristus 

Panggilan Karmel adalah mengikuti Kristus. Dengan sendirinya peranan Kristus begitu sentral karena sikap kontemplasi dan persaudaraan tak dapat dipahami tanpa Kristus. Tetapi gagasan mengikuti Kristus dan menjadikanNya sebagai pusat hidup tidak hanya dimengerti sebagai penyerahan diri dalam pengabdian kepada Kristus, melainkan juga memandang Kristus sebagai teladan yang penuh inspirasi. Barang siapa ingin mengembangkan sikap dasar hidup kristiani tidak akan pernah menemukan teladan serta sumber inspirasi yang lebih kaya daripada dalam Kristus yang hidup dalam persatuan mesra dengan  BapaNya.

Sabda Allah 

Para Karmelit dipanggil untuk mencari Allah secara terus-menerus. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca Sang Sabda baik dalam bentuk  lectio divina (pembacaan dan permenungan Kitab Suci), studi, dan meditasi. Mencari Allah secara terus-menerus hendaknya menjadi dasar dan ungkapan tertinggi dari hidup bersama. Lectio divinamerupakan sumber sejati spiritualitas kristiani yang dianjurkan oleh Regula Karmel. Maka para Karmelit setiap hari berusaha memupuk cinta yang mendalam dan sejati sehingga mereka dapat berkembang dalam pengenalan akan Yesus Kristus. Hal ini mengingatkan akan perintah Rasul Paulus yang tercantum dalam Regula: ‘Hendaknya pedang roh, yaitu Firman Allah, diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu, dan segala sesuatu yang harus kamu lakukan, lakukanlah itu dalam nama Tuhan.’

Keheningan

Keheningan dan kesunyian yang harus diusahakan tiap Karmelit dan dengan tinggal di dalam komunitas para Karmelit siap mendengarkan suara Roh Kudus. Karena itu pada Karmelit terus-menerus berusaha menciptakan dan memelihara suasana keheningan, samadi dan kesunyian. Dengan demikian para Karmelit dapat melibatkan diri dengan lebih mudah dalam doa pribadi serta lebih berhasil dalam studi dan karya.

Doa

Doa dan Karmel telah menyatu. Sejak awal berdirinya Ordo Karmel telah melaksanakan baik hidup doa maupun kerasulan doa. Doa adalah pusat dari hidup kita, dan darinya muncul komunitas dan pelayanan otentik. Doa komunitas Karmel melambangkan Gereja yang berdoa bagi dunia. Apabila, para Karmelit ditanya apa yang dapat mereka sumbangkan kepada dunia, maka jawabannya adalah doa. Tulisan-tulisan para Karmelit dan Tradisi Karmel merupakan hasil dari upaya hidup di hadirat Allah dalam cinta.  Regula Karmel dengan jelas menyatakan bahwa para Karmelit haruslah tinggal di selnya masing-masing, merenungkan sabda Tuhan siang dan malam dan terus berjaga dalam doa. Tujuan hidup para Karmelit dapat diungkapkan secara berikut: mencari dan mengenal Allah, mengenal dan mencintai diri sendiri dan sesama dalam cahaya wajah Allah. Doa dalam Karmel adalah suatu perpaduan antara mendengarkan Allah dan membina cinta kepadaNya. Inilah yang disebut kontemplasi. 

Hidup yang Meluap dari Doa

Doa berbuah dalam bentuk anugerah kontemplasi. Anugerah ini tentu saja dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam setiap panggilan hidupnya dengan melaksanakan ketiga keutamaan, yaitu: iman, harapan, dan kasih. Iman itu makin berkembang dan akhirnya membuat seseorang dalam hidupnya dapat melihat dan menilai segala, khususnya dalam diri sesama, seperti Yesus dan BapaNya. Harapan itu dianugerahkan pada waktu yang sama dan dapat berkembang sampai kita mampu benar-benar menaruh kerinduan hati kita melulu pada Allah dan melihat lainnya sebagai sarana, bukan tujuan yang harus dikejar. 

Pertapaan

Para Karmelit dikenal sebagai pendoa bahkan guru doa sehingga orang mengidentikkan spiritualitas Karmel dengan pertapaan. Tidak sepenuhnya salah, tetapi kata “identik” kuranglah tepat. Hidup bertapa merupakan salah satu bentuk pola hidup yang mungkin dan dijalankan oleh beberapa orang anggota Ordo Karmel. Dan semenjak berpindah ke Eropa Ordo Karmel juga mengambil pola hidup sebagai Ordo Mendikan (mendikan=pengemis), para anggotanya aktif berkecimpung di bidang kerasulan di tengah masyarakat sambil tetap mempertahankan unsur doa dengan setia.

Karisma | Inspirator | Orang Kudus