{"id":63,"date":"2020-10-31T10:38:20","date_gmt":"2020-10-31T10:38:20","guid":{"rendered":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/?page_id=63"},"modified":"2020-11-29T15:38:01","modified_gmt":"2020-11-29T15:38:01","slug":"inspirator","status":"publish","type":"page","link":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/spiritualitas\/inspirator\/","title":{"rendered":"Inspirator"},"content":{"rendered":"\n<p>Spiritualitas Karmel diwarnai oleh dua tokoh inspirator. Yang pertama adalah\u00a0Nabi\u00a0Elia, yang dikembangkan oleh para Karmelit dalam bentuk hidup di Gunung Karmel, tempat dimana\u00a0Nabi Elia\u00a0dahulu\u00a0berkarya.\u00a0Yang kedua adalah\u00a0BundaMaria; keakraban\u00a0dengan Maria\u00a0ini nampak jelas karena\u00a0para Karmelit\u00a0menyebut dirinya\u00a0saudara-saudara\u00a0Bunda Maria dan karena gereja pertama di Gunung Karmel dipersembahkan kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:100px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Nabi Elia<\/h3>\n\n\n\n<p>Perkataan \u201cGunung Karmel\u201d dalam nama resmi Ordo Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, bukanlah melulu keterangan tentang asal. Nama itu menunjuk kepada Nabi Elia. Tokoh Nabi Elia dengan segala kepribadian, hidup dan tindakannya yang mengesankan menjadi sumber inspirasi bagi pertapa-pertapa di Gunung Karmel. Elia adalah nabi yang berani dan bersemangat untuk berjuang bagi perkara Allah dan peka terhadap kebutuhan-kebutuhan paling mendalam dari umatnya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/1039_Prophet_Elijah_Holding_Greek_Scroll_Hand-Painted_Byzantine_Icon_2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-708\" width=\"332\" height=\"473\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Dari Elia, para karmelit belajar menjadi pertapa padang gurun, yang dengan hati yang tak terbagi berdiri di hadapan Allah, mengabdikan diri seutuhnya kepada Allah, mengutamakan pengabdian mereka kepada perkara Allah, dan terbakar oleh cinta yang hangat akan Allah. Sebagaimana Elia, para Karmelit percaya akan Allah dan membiarkan dirinya dibimbing oleh Roh dan Sabda, yang mengakar dalam hatinya, untuk memberi kesaksian akan kehadiran ilahi di dalam dunia, dengan membiarkan Allah menjadi sungguh-sungguh Allah dalam hidupnya. Dan akhirnya, mereka melihat Elia sebagai bagian dari sekelompok nabi, dan darinya mereka mengetahui apa artinya\u00a0\u00a0hidup berkomunitas. Selain itu, dari Elia para Karmelit juga belajar menjadi saluran cinta Allah yang lembut kepada mereka yang miskin dan rendah hati.\u00a0Semboyan Nabi Elia \u201cZelo Zelatus Sum Pro Dominum Deo\u201d (Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Allah Raja Semesta Alam) menjadi semboyan para Karmelit.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:100px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bunda Maria<\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam mengikuti Kristus para Karmelit melihat pribadi Maria sebagai sumber inspirasi dan teladan yang tepat. Semasa hidupnya Santa Perawan Maria menjadi umat Kristus yang sempurna. Ia mencerminkan segala keutamaan dan menghayati sabda bahagia Kristus sepenuhnya. Maria adalah seorang manusia yang hidup bersumber dan berpusat pada Allah. Dengan rendah hati ia terbuka bagi Allah dan menjadikan kehendak Allh sebagai pedoman hidupnya, pada awal kedatangan Sang Sabda di dunia dalam dirinya dan pada akhir hidup Putranya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignwide\"><div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\">\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Our-Lady-of-Mount-Carmel-Hand-Painted-Roman-Catholic-Icon-on-Wood-03.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-711\" width=\"331\" height=\"448\" srcset=\"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Our-Lady-of-Mount-Carmel-Hand-Painted-Roman-Catholic-Icon-on-Wood-03.jpg 739w, http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Our-Lady-of-Mount-Carmel-Hand-Painted-Roman-Catholic-Icon-on-Wood-03-222x300.jpg 222w\" sizes=\"auto, (max-width: 331px) 100vw, 331px\" \/><\/figure><\/div>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p>Sebagaimana Maria, para Karmelit mendambakan hidup dalam persatuan mesra dengan Allah dengan bersumber pada persatuan dengan Allah itu. Mereka mewujudkan hubungan manusiawi yang mendalam dan otentik dengan orang lain. Maria adalah tokoh yang sungguh mendapat tempat dalam kehidupan para Karmelit. Maria sungguh diakui memberikan perlindungan para Karmelit, meskipun kita ini adalah abdi-abdi (hamba) Maria. Dalam abad pertengahan gagasan Maria sebagai \u201ctuan\u201d sekaligus pelindung ini diungkapkan dengan Domina Loci yang berarti \u201cyang memiliki dan berkuasa atas tempat\u201d. Para Karmelit yang tinggal di tempat itu, harus menghormati dan mengabdinya. Dia sebagai pemilik dan penguasa yang melindungi kita.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:100px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Spiritualitas Karmel diwarnai oleh dua tokoh inspirator. Yang pertama adalah\u00a0Nabi\u00a0Elia, yang dikembangkan oleh para Karmelit dalam bentuk hidup di Gunung Karmel, tempat dimana\u00a0Nabi Elia\u00a0dahulu\u00a0berkarya.\u00a0Yang kedua adalah\u00a0BundaMaria; keakraban\u00a0dengan Maria\u00a0ini nampak jelas karena\u00a0para Karmelit\u00a0menyebut dirinya\u00a0saudara-saudara\u00a0Bunda Maria dan karena gereja pertama di Gunung Karmel dipersembahkan kepadanya. Nabi Elia Perkataan \u201cGunung Karmel\u201d dalam nama resmi Ordo Saudara-saudara Santa Perawan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":33,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"class_list":["post-63","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/63","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63"}],"version-history":[{"count":21,"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/63\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":868,"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/63\/revisions\/868"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/33"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/karmelindonesia.org\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}