Sejarah Singkat Karya Paroki di Sumatera

Berkarya di Paroki Sumatera, khususnya di Keuskupan Medan sudah sangat lama. Awal tahun 1965, almarhum Romo Martinus Sarko Dipojudo, O.Carm selaku Komisaris Jenderal Ordo Karmel Indonesia, setelah mengadakan penjajakan bersama Romo Quirinus Kramer, O.Carm menerima Sidikalang sebagai karya parokial.

Ternyata perkembangan begitu cepat, di tahun yang sama, yakni 21 November 1965 merintis pembukaan paroki baru, yang merupakan pengembangan dari Paroki Sidikalang ke wilayah Utara – Dairi, yaitu paroki Tigalingga, Keuskupan Medan. Hingga akhirnya, tahun 1967, Paroki Tigalingga secara resmi dinyatakan berdiri oleh Uskup Agung Medan.

Kemudian di tahun 1968, para karmelit juga merintis paroki baru yang merupakan pengembangan dari Paroki Sidikalang ke wilayah Timur – Dairi, yaitu Sumbulpegagan, yang pada tahun itu juga dinyatakan berdiri sebagai paroki oleh Uskup Agung Medan.

Pada tahun 1979, Keuskupan Agung Medan memercayakan rintisan paroki baru Pasar Merah kepada Ordo Karmel, pemisahan dari Paroki Katedral.

Dan Keuskupan Medan terus berlanjut memercayakan beberapa paroki lainnya untuk dikembangkan. Sehingga, Karmel Sumatera pelayanannya lebih kepada Parokial. Meskipun dalam pelayanan Kategorial juga cukup berkembang, terlebih saat dibentuknya IKI (Institut Karmel Indonesia) Sumatera pada tahun 1995 sebelum Sumatera dibentuk secara resmi sebagai Komisariat Provinsi, yakni tahun 2006.

Semoga sejarah singkat ini bisa membantu.

Sumber utama:
Buku Perjalanan Ordo Karmel Indonesia, Pasang Surut Selama Sembilan Tahun 1923 – 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *