Persaudaraan dan Karmel

Judul di atas adalah judul sesuai teks aslinya yang ditulis oleh Rm Na Peng Bo, O.Carm dalam rekoleksi Ordo Karmel tanggal10-11 Oktober 2012 di Aula St.Simon Stock, Gedung Provinsialat OCARM Jl. Talang 3 Malang. Berikut saya akan menyampaikan kembali melalui Blog ini, semoga bermanfaat!

Persaudaran dan Karmel. "Bagi saya tema ini agak sulit, terutama karena "persaudaraan" sulit diterangkan, karena istilah persaudaraan begitu sering disebut-sebut dan dianggap sebagai sudah diketahui semua orang dan jelas." Inilah ungkapan pembuka yang disampaikan oleh Romo Na, demikian panggilan akrabnya. Rasanya ungkapan itu benar, persaudaraan bukan hal yang mudah, mungkin terlihat lebih tidak sulit bila hanya dibahas saja.

Mengapa Romo Na menyampaikan ungkapan tersebut? Jawabannya, "Dalam Karmel, kita tidak mempunyai hubungan darah, maka tidak ada effektivitas. Di lain pihak memang kita ini bersaudara dalam Kristus, tetapi ini memang semua orang yang sudah dipermandikan dan memperoleh warisan ilahi yang diberikan Kristus kepada kita. 

Lalu, Keistimewaan apa yang menjadi ciri khas persaudaraan para Karmelit? Romo Na menjawab sebagai berikut: "Seharusnya ya Regula St. Albertus, yang di berbagai pertemuan formal seperti Kapitel Jenderal maupun Provinsi sering menjadi sumber utama dan cermin bagi para anggota kapitel dalam mengambil kebijakan-kebijakan sehubungan dengan penghayatan karisma pada zamannya.

Bagus sekali jawaban Romo Na ini, tetapi apa yang dikatakan Regula tentang persaudaran? Romo Na langsung memberikan jawabannya, "Bagi Regula, persaudaraan pada dasarnya adalah kebersamaan:

  1. Kebersamaan dalam mengikuti Misa setiap pagi (Regula 14),
  2. Makan bersama (Regula 7)
  3. Ibadat Harian bersama (Regula 11)
  4. Milik bersama (Regula 12)
  5. Konferensi bersama (Regula 15)
  6. Memilih prior (pemimpin komunitas/biara) bersama, kepada siapa para anggotanya menjanjikan ketaatan (Regula 4)

Namun pada zaman sekarang, di mana kebanyakan para Karmelit sudah bekerja aktif melayani umat terpisah dimana-mana, banyak dari kebersamaan ini sudah tidak terpenuhi lagi. Kita sibuk dalam pekerjaan dan kesibukan kita masing-masing, sehingga tidak sempat mengikuti Misa bersama-sama, tidak sempat berdoa bersama, dsb. Belum lagi kita terpisah satu sama lain, sehingga sering berkumpul sekedar berdua saja atau bertiga masih sukar. Namun demikian, seharusnya kita memprioritaskan kebersamaan kita, sekalipun hanya berdua atau bertiga saja, terutama untuk mengikuti Ekaristi bersama. Regula kita menghendaki secara mendasar sebagai "saudara-saudara" dan mengingatkan kita bahwa kualitas hubungan antar pribadi dalam komunitas Karmel harus terus dikembangkan dan ditingkatkan dengan mengikuti teladan komunitas perdana di Yerusalem." Demikianlah Romo Na panjang lebar menjelaskan dasar persaudaraan di dalam Regula.

Kemudian, bagaimana persaudaraan dijelaskan dalam Konstitusi Ordo? Jawab Romo Na, "Menurut Konstitusi no 9, menjadi saudara berarti saling memperdulikan kesejahteraan rohani dan psikologis tiap pribadi, melalui dialog dan rekonsiliasi. Maka bagi kita, menjadi saudara berarti bertumbuh dalam persekutuan dan persatuan, menghilangkan hak-hak istimewa dan perbedaan-perbedaan, dalam semangat partisipasi dan tanggung jawab bersama, dalam berbagai harta benda, rencana bersama tentang kehidupan, dan karisma pribadi."

Saya rasa apa yang disampaikan Romo Na tersebut sangat mendasar bagi hidup persaudaraan Karmel. Akan tetapi mungkin belum lengkap pernyataan yang diberikan di sini. Lain waktu kita sambung lagi bagaimana perasudaraan dan karmel menurut Romo Na Peng Bo, O.Carm.