Persaudaraan Baseta

baseta2012 aBASETA, apa itu? Mungkin terdengar kurang familiar.Baseta adalah singkatan dari bawah sepuluh tahun. Ini bukan sekedar sebuah singkatan, melainkan sebuah acara yang  ditentukan koordinatornya, sekretarisnya, juga bendaharanya. Memang bukan acara resmi, juga bukan bagian dari on going formation (pendidikan berkelanjutan) bagi para karmelit. Baseta merupakan acara tiga atau empat kali dalam setahun yang diikuti oleh mereka yang ber-kaul kekal (berjanji serah setia seumur hidup) dalam OCARM selama sepuluh tahun ke bawah.

Akan tetapi, di kemudian hari hingga sekarang dan selanjutnya, pesertanya ternyata bisa menjadi bawah seket (bahasa jawa= 50) tahun, yang tentunya merasa berjiwa muda dan ingin bergaul akrab dengan yang masih muda.

Siapa pencetus, BASETA? Saya tidak tahu persis. Mungkin mereka adalah penggagas-penggagas atas keprihatinan persoalan pribadi, kebersamaan, kesendirian dan sebagainya dalam penghayatan sebagai karmelit maupun dalam pelayanan. Hanya saja saya merasakan suasana persaudaraan dalam Baseta ini. Sejak sebelum satu tahun kaul kekal, saya ikut dalam acara ini. Acara biasa dimulai dengan ramah tamah, minum dan makanan ringan yang dibawa oleh para peserta Baseta dari biara atau tempat tugas masing-masing. Inilah yang terjadi, sebuah tradisi di mana masing-masing membawa makanannya lalu disatukan dan dimakan bersama-sama. Jadi bukan tuan rumah yang lalu sibuk mengurus makanan ringan, tuan rumah hanya menyediakan makan besarnya.

Karena biasanya acara dibuka dengan ibadat sore bersama, kami yang datang dari berbagai tempat tugas, khususnya di Jawa, harus mandi terlebih dulu. Nah, ini biasanya ngantri. Maka, ada yang berinisiatif untuk bermain atau berolah raga, seperti bulu tangkis, atau hanya sekedar ngobrol ringan dengan berbagai lelucon sana-sini. Dan setelah ibadat sore bersama, kami langsung menikmati santap malam bersama. Suasana persaudaraan pun terjadi di sini. Bila acara Baseta berada di paroki, maka kami makan bersama Dewan Pastoral Paroki di mana acara berlangsung. Sebab, setelah makan yang juga biasanya ibu-ibu terlibat untuk menyediakan, kami mengadakan sharing pengalaman pelayanan.

Pagi harinya, kami bangun dan mandi kemudian misa yang biasanya dipimping oleh imam muda (yang baru ditahbiskan) atau belum pernah memimpin misa dalam acara Baseta tersebut atau yang belum pernah kami tahu bagaimana memimpin misa. Hal ini kadang menjadi sarana bagi imam muda juga kami yang masih muda untuk saling memberikan evaluasi bagaimana memimpin misa yang baik. Kami yang imam belajar mendengarkan bagaimana komentar para bruder tentang cara kami misa dan apa yang masih terlihat belum dihayati. Imam lainnya biasanya lebih berkomentar tentang tata caranya. Dalam misa itu pula biasanya kami mendoakan secara khusus karya dan pelayanan para karmelit, juga mendoakan keluarga (ayah-ibu, kakak-adik, kakek-nenek, bibi-paman) para karmelit.

Setelah misa, kami sarapan dan lalu dilanjutkan dengan sharing santai (sambil makan dan minum ringan) antar kami para peserta baseta, mungkin ada persoalan pribadi, persoalan hidup berkomunitas, ide atau gagasan yang cemerlang tentang penghayatan hidup kekarmelitan atau pun tentang karya pelayanan, dan sebagainya. Kami di sini sungguh bersaudara, saling mendengar juga saling menasihati satu dengan yang lain.

Kemudian, setelah sharing bisanya kami pergi ke tempat rekreasi atau tetap tinggal di situ dengan acara pribadi ataupun bersama, seperti futsal, bulu tangkis, kunjungan ke tempat karya masyarakat setempat, dsb. Dan acara ditutup dengan makan siang. Namun sebelum makan siang atau juga sesudahnya, kami biasaya mengadakan kolekte, kami kumpulkan untuk tujuan tertentu, terutama membantu biaya pendidikan para karmelit muda yang masih berjuang di Postulan, Novisiat, ataupun Studi (Univ atau STFT). Ini pula bentuk persaudaraan yang lain, semacam kepedulian terhadap saudara yang lain dalam hal materi.