Murid Katolik SMAK Santo Paulus Kunjungi Pesantren

Berikut berita dari Romo Denny, O.Carm yang mengutip langsung dari Koran Jawa Pos Radar Jember:

 

Murid Katolik SMAK Santo Paulus Kunjungi Pesantren

Pererat persaudaraan dalam merayakan Tahun Baru Hijriah.

 

Silo, Radar Jember (16/11) - Kegiatan cukup unik dilakukan oleh SMAK Santo Paulus dalam merayakan tahun baru Islam. Sebanyak 50 murid Saint Paul, sebutan khas untuk sekolah ini, berkunjung ke Pondok Pesantren Al Falah di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, tanggal 14 sampai dengan 15 November 2012. Selain menginap (live in) di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Mukhit Ariev, para murid mengadakan diskusi (dialog) lintas agama dan kegiatan penghijauan lahan gundul. hal ini dimaksudkan untuk membangun persaudaraan sejati antar-umat beragama.

     Semua ini tergambar dalam kegiatan yang bertema "Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Mewujudkan Cinta bagi Sesama dan Alam" dan dengan sub-tema "Membangun Persaudaraan Sejati antara Islam dengan Katolik".

     Tentu saja hal ini menjadi pemandangan yang sangat mengharukan di tengah karut marut kehidupan berbangsa yang semakin rapuh karena begitu mudahnya terjadi konflik akibat perbedaan yang semakin ditonjolkan. Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh dalam membangun kerukukan umat beragama di Indonesia.

     Romo Antonius Denny Cahyo Sulistiono O.Carm, Kepala SMAK Santo Paulus menjelaskan, kegiatan ini sengaja diadakan untuk menjalin silaturahmi dan persaudaraan antar-umat beragama. Namun yang terpenting, kata dia, sekolah ingin mengajarkan nilai persaudaraan kepada para murid, khususnya persaudaraan dalam kesatuan bangsa Indonesia.

     "Kami ingin anak-anak tidak memiliki persepsi buruk terhadap Islam," jelas Romo Denny, panggilan akrabnya. Pihaknya berharap, dengan kegiatan ini bukan saja terjalin kerukunan antar-pemuka agama, melinkan juga kerukunan pada akar rumput yang kali ini diwakili para murid Katolik dan para santri.

     "Kami ingin menunjukkan potret Indonesia yang sebenarnya dan seharusnya. Persatuan Indonesia yang sejati itu seperti sepiring rujak cingur, kesatuan yang enak untuk dinikmati," tegas Romo Denny. Dia menyatakan bahwa upaya dialog persaudaraan ini didasarkan pada kesadaran sebagai warga Indonesia. "Saya adalah orang Indonesia yang kebetulan beragama Katolik. Kyai Mukhit juga orang Indonesia; dan kebetulan belau beragama Islam. Betapa indahnya kebhinekaan di antara bangsa Indonesia. Jika kita bertitik-tolak dari ke-Indonesia-an, akan muncul kesatuan. Jika kita bertitik tolak dari agama, suku atau ideologi masing-masing, akan muncul konflik dan pertikaian. Jadi, kita berusaha mewujudkan persatuan, kesatuan dan persaudaraan sebagai (anak) bangsa Indonesia," tegas Romo Denny yang diamini oleh Kyai Mukhit.

     Kegiatan ini dimulai dengan dialog antara kedua agama, Katolik dengan Islam. Dialog dimulai dengan pemaparan kelompok Katolik dengan judul "Mengenal Gereja Katolik" dan dilanjutkan dengan presentasi kelompok Islam dengan judul "Mengenal Islam dalam wajah NU". Dalam setiap presentasi selalu disusul dengan sesi tanya jawab oleh kelompok berbeda. Penanya pada presentasi Katolik adalah para santriwan dan santriwati, sedangkan penanya pada presentasi Islam adalah siswa dan siswi Katolik. Ada banyak pertanyaan kritis yang dilontarkan baik oleh para santri maupun para murid Katolik. "Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sungguh menarik, tidak terduga, dan bahkan "mencelikkan mata" semua yang ikut dan terlibat dalam diskusi," demikian komentar Romo Denny dan Kyai Mukhit.

     Diskusi dan dialog sungguh mengesankan dan memberi kesan mendalam, karena masing-masing pihak berusaha saling memahami. Semua pertanyaan diajukan untuk memahami secara lebih mendalam antar satu pihak dengan pihak lainnya. "Persaudaraan yang erat akan sungguh lahir dari pemahaman yang mendalam," ujar Romo Denny. Yang lebih mengharukan, para pelajar SMAK Santo Paulus yang rata-rata berasal dari keluarga berada ini, mampu berbaur dengan para santri di Ponpes Al Falah. Bahkan, mereka menginap dan tinggal di antara para santri di tempat yang sederhana di pondok pesantren. Padahal, murid-murid Saint Paul merupakan murid dari golongan berada. Dengan belajar hidup sederhana semacam ini, diharapkan mereka mampu memiliki kepekaan dan jiwa sosial kepada mereka yang miskin dan membutuhkan.

     Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penghijauan, yaitu penanaman berbagai pohon di lahan gundul sekitar pesantren. Ada sekitar 1000 pohon yang ditanam oleh para murid Katolik dan para santri Al Falah di tempat itu.

     "Ini merupakan kegiatan awal, dalam artian kami bertindak sebagai pioneer. Nanti kegiatan ini rencananya akan diteruskan oleh umat Katolik dari Paroki Santo Yusup Jember," kata Romo Denny. Kegiatan ini bertujuan menanamkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, karena perhatian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab dan tugas utama setiap insan Indonesia. "Selama ini, orang Indonesia maunya menebang pohon, tetapi lupa menanam pohon baru," demikian keprihatinan Kyai Mukhit. "Akibatnya, bencana terjadi karena rusaknya lingkungan hidup," imbuhnya.

     Penghijauan yang dilakukan oleh para santri Al Falah bersama dengan murid Katolik SMAK Santo Paulus merupakan gerakan profestis-kenabian bagi bangsa Indonesia supaya memiliki kesadaran untuk memperbaiki lingkungan yang rusak. "Ini untuk menyuarakan pesan cinta terhadap alam dalam bentuk pelestarian lingkungan hidup, khususnya dengan menghijaukan lahan bekas hutan yang kini gundul, dan kembali memfungsikan hutan sebagai hutan," ujar Romo Denny.

     Dia menambahkan bahwa hutan harus tetap sebagai hutan, sebagai tempat hidup ekosistem yang menuntut keberadaan hutan. Setiap warga Indonesia membutuhkan hutan sebagai penyedia udara bersih. "Jika hutan habis, akan habis juga manusia Indonesia dan manusia dunia," tegas Kyai Mukhit.

     Yang jelas, upaya yang dilakukan oleh Pesantren Al Falah bersama dengan SMAK Santo Paulus ini menjadi contoh kerukunan yang nyata, yang sengaja dibangun untuk mempererat tali persaudaraan bangsa Indonesia sehingga mampu hidup rukun dalam keberagaman. Nantinya diharapkan upaya ini menginspirasi segenap bangsa untuk berjuang meraih kemajuan dan kesejahteraan bersama dalam kesatuan kebersamaan.