IN MEMORIAM RM. INOSENSIUS DAENG KARWAYU, O.CARM (OPA INO)

Oleh: Rm. Stef. Buyung Florianus, O.Carm.       

Rm. Inosensius Daeng Karwayu, O.Carm, atau biasa disapa Opa Ino meninggalkan kita semua pada hari Minggu, 26 Januari 2014 pada jam 22.15 waktu setempat. Dan hari Selasa, 28 Januari 2014, saat Gereja merayakan peringatan wajib seorang jenius St. Thomas Aquino, imam dan pujangga gereja dan bertepatan dengan hari ulang tahun imamat ke-35 Rm. Inosensius Daeng Karwayu, O.Carm, kita mengantar ke tempat peristirahatan yang terakhir beliau di Taman Makam Karmel “St. Agustinus”, Weruoret, Nita (Maumere). Di saat peringatan malam ke-4, malam “nara krus” (kebiasaan setempat, yaitu malam berjaga semalam suntuk sampai dini hari saat salib ditanam di makam), kita berkumpul kembali untuk mendoakan beliau. Sebagai kenangan akan kebersamaan dengan beliau, saya merangkai kata-kata berikut ini.

TERKEJUT

Berita meninggalnya Rm. Inosensius Daeng Karwayu membuat kita semua terkejut. Betapa tidak! Tidak ada berita atau informasi sebelumnya bahwa ia dirawat di Rumah Sakit atau sedang dalam penanganan dokter karena suatu penyakit tertentu. Hanya memang, dia sejak muda menderita penyakit asma, pernah stroke dan lebih dari setahun yang lalu pernah dirawat di Rumah Sakit. Dan sehabis Natal 2013 yang lalu, tatkala ia menyempatkan diri ke Mauloo, sebuah paroki yang bertahun-tahun lamanya ia abdi, entah sebagai frater TOP, pastor rekan, pastor paroki maupun penghuni pastoran, kami mendapat kabar bahwa ia sakit, kakinya bengkak. Rm. Jenti (Komisaris) dan saya pernah membicarakannya, bagaimana kalau ia dianjurkan ke dokter, dan kita langsung pesan ke dokter supaya ia dirujuk ke Jawa untuk penanganan lebih lanjut. Tapi sampai dengan hari kematiannya, berarti kurang lebih dari tiga minggu sepulangnya dari Mauloo, hal itu tidak terjadi. Saya dengar bahwa Rm. Jenti menawarkan diri untuk mengantar ke Rumah Sakit, tetapi rupanya ditolak. Ia merasa diri sehat.

Itulah yang terjadi. Namun berita kematiannya, sekali lagi menjadi sebuah kejutan untuk kita semua. Komunitas Novisiat sedang merayakan bersama hari ulang tahun kelahiran dan hari ulang tahun pembaptisan para anggota komunitas di bulan Januari. Di sela-sela acara tersebut, Fr. Nilus berbisik pada saya untuk meminta satu dua frater menemani Rm. Jenti yang akan mengantar Opa Ino ke Rumah Sakit. Saat itu, saya sendiri berpikir bahwa sakitnya tidak membawa kepada kematian. Ternyata beberapa menit kemudian, Rm. Yansen datang dan memberitahukan bahwa Opa Ino kritis, tidak sadarkan diri. Saat itu, saya langsung meninggalkan ruang acara kami dan terus bersama Rm. Yansen menuju unit Komisariat. Sesampainya di sana, Opa Ino sudah diantar ke Rumah Sakit. Selang beberapa waktu kemudian, ada berita dari Rumah Sakit, Rm. Ino sudah meninggal. Rm. Heribertus Purwanto, O.Carm, mantan Provinsial, yang saat ini berada di Hongkong juga mengungkapkan keterkejutannya. Lewat milis Karmel, ia mengatakan demikian, “Ini benar-benar berita duka yang mengejutkan. Saya dengar pertama kali dari Rm. Waris pada waktu sarapan pagi tadi. Pada waktu Misa pagi saya belum mendengar. Setelah sarapan, saya buka HP dan ada WA dari Rm. Provinsial yang langsung saya balas: ikut berduka dan titip salam untuk konfrater di Flores khususnya. Saya benar-benar terkejut dan berduka.” Dan lagi, Bapak Marsel Werong, seorang Karmelit Awam dan pernah sama-sama di Seminari Menengah, tatkala saya mengirim sms segera setelah kematian Rm. Ino, membalas dengan nada tidak percaya sebagai tanda keterkejutannya, “Aduh, betulkah.” Lalu Rm. H. Pidyarto Gunawan, Malang lewat milis juga mengungkapkan pengalaman serupa. Ia pun menulis, “Kita terkejut mendengar kepergian Rm. Inno Daeng.” Dan lagi Bapak Silvester Du’e, mantan frater Karmel dan saat ini tinggal di Jakarta mendapat kabar meninggalnya Rm. Ino, ia pun dalam nada terkejut menanyakan kepastian dalam sms yang ia kirim untuk saya, “Selamat pagi… teman. Saya dapat info dari mbk… romo Ino meninggalkah.”

KEHILANGAN DAN TURUT BERDUKA

Berita berpulangnya Rm. Ino, selain terkejut, kita pun merasa kehilangan dan turut berduka. Sebuah perasaan yang wajar dan ungkapan yang normal ketika kita mendengar berita kematian, termasuk meninggalnya sama saudara kita ini. Kita kehilangan karena selama hidupnya kita mengalami sentuhan kasih, sapaan dari beliau. Bapak Martinus Triyanawarsa, seorang mantan frater Karmel ketika saya memberitakan kematian Rm Ino lewat bbm, ia pun membalas, “Karmel kehilangan seorang yang pintar dan seniman.” Karangan bunga-karangan bunga pun berdatangan ke Kapel Biara Karmel Wairklau, tempat Rm. Ino disemayakan sejak Senin, 27 Januari pagi sampai Selasa saat diadakan misa Arwah jam 10.00 pagi wita. Karangan-karangan bunga itu bertuliskan, “Turut berdukacita”  Selain itu, teman-temannya, para konfrater dalam Ordo Karmel dan pihak-pihak lain menyatakan turut berdukacita. Ketika saya mengabarkan kematiannya kepada Bapak Alfonsus Nong Didi, asal Baluele/Nele dan saat ini berada di Balikpapan, menjawab sms saya demikian, “Terimakasih atas informasinya Romo. Kami para teman turut berdukacita. Salam.” Rm. Aditya Permana Perangin-angin, dari Medan menulis, “Turut berdukacita atas wafatnya Padre Inno.” Bapak Kanisius Decky, mantan frater Karmel dan saat ini tinggal di Ruteng mengirim sms kepada saya demikian, “Kami sekeluarga turut berduka tuang…. Beliau adalah salah satu tokoh Karmel yang saya kagumi.” Rm. Andik, yang  saat ini lagi menyelesaikan studinya di Washington, DC, USA menulis, “Dukacita mendalam atas berpulangnya Rm. Innocentius Daeng Karwayu.” Lalu lewat Br. Nungki di Malang, Karmel Filipina, tempat di mana Rm. Ino pernah mengabdikan dirinya untuk beberapa tahun menyatakan juga rasa duka mereka. “Helo Nungky: Please relay our sadness and grief for the passing our beloved brother and good friend… ROMO INO DAENG KARWAYU… From Carmel Philippines”

 

SELAMAT JALAN DAN TIBA DI TERMINAL AKHIR

Berita duka kematian Rm. Ino tidak membuat kita larut dalam kesedihan dan berhenti di sana. Sebaliknya, kita terus menatap ke masa depan. Kita mengucapkan selamat jalan kepadanya dan semoga tiba di tempat tujuan, terminal akhir, yaitu  kehidupan abadi di Rumah Bapa. Romo Roberto Sianturi, dari Parongil, Sumatera Utara, lewat milis Karmel menulis, “Dari Parongil, kami mengucapkan selamat jalan buat Rm. Inno. Kami berdoa agar Rm. Inno beroleh kebahagiaan kekal bersama Para Kudus di surga. Amin.” Rm. Anton Gunawan, Jakarta, pun menulis, “Romo Inno….. selamat jalan, selamat beristirahat dalam kasih Bapa.” Br. Nungki pun tidak mau ketinggalan. Ia mengatakan, “Selamat jalan Romo Inno…. Beristirahatlah dalam damai-Nya.” Juga Rm. Benny Phang, dari Roma pun menyapa, “Selamat jalan Rm. Inno, Saudaraku. Beristirahatlah dalam damai Kristus.” Rm. Gunawan Wibisono, dari Meruya, Jakarta berkata, “Rm. Inno Karwayu, O.Carm. Selamat Jalan. Tinggallah bersama para Kudus di surga.” Rm. Nolaskus Harsyantoko, yang biasa disapa Rm. Ino dengan Nolasco, menyapa secara khusus konfraternya ini, dengan kata-kata berikut, “Opa Inno, Selamat jalan ke keabadian bersama Allah Tritunggal Mahakudus.”

Dalam kata-kata awal Upacara Pemberkatan Jenazah, imam berkata, “… kini sudah tibalah saatnya kita berpisah dari saudara kita …. Dengan hati yang tabah kita memberikan penghormatan terakhir kepadanya, karena kita berharap, bahwa ia akan bangkit untuk kehidupan kekal bersama Kristus yang telah diimaninya.” Dan pada waktu mau dimakamkan, imam memulainya dengan kata-kata, “… sebelum berpisah dengan saudara kita…., mailah kita mengucapkan selamat jalan kepadanya. Semoga doa dan salam yang kita ucapkan pada makam ini, melambangkan cinta, meringankan duka dan meneguhkan iman kita. Sebab kita berharap akan berjumpa lagi dengan saudara kita dalam keluarga abadi, yaitu bila Kristus datang sebagai pemenang atas maut untuk mengumpulkan semua sahabatnya dalam kerajaan Bapa.” Akhirnya pemimpin upacara (imam) membuat tanda salib di atas peti jenazah, sambil berkata, “Saudara tercinta, semoga saudara memasuki hidup abadi dengan membawa tanda kemenangan Kristus demi nama Bapa + dan Putra dan Roh Kudus. Amin.” Pada saat misa pemakaman omnya, 18 Januari yang lalu, Rm Ino memberikan kata pengantar dan kotbah. Ia antara lain menyapa dengan berkata, “…. keluarga yang berduka, sekaligus juga bersukacita karena sabda Tuhan yang diperdengarkan pada hari ini.” Dalam peristiwa kematian, bukan hanya berita duka, melainkan berita gembira karena iman kita.

 

SALING MENDOAKAN

Kepergian Rm. Ino tidak mengakhiri segala-galanya. Hidup kita hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan, demikian salah satu kalimat dalam Prefasi I untuk Arwah. Kita yang masih hidup masih berbuat sesuatu untuk beliau dengan mendoakannya, demi kebahagiaan, dan tentu dengan sendirinya apabila ia sudah menikmati kebahagiaan di rumah Bapa, ia sebaliknya senantiasa akan mendoakan kita yang masih berjuang di dunia ini. Br. Nungki menulis, “Doa kami mengiringi kepergianmu.” Lalu Rm. Benny Phang mengatakan, “Doa-doa kami menyertaimu.” Rm. Aditya Perangin-angin juga menulis, “Doa kami bagi padre Inno dalam persatuan abadi dengan Kristus yang diabdinya.” Beberapa konfrater dan komunitas Karmel juga langsung menyampaikan apa yang telah mereka buat untuk mendoakan Rm. Ino, khususnya dalam Ibadat Harian dan Ekaristi. Rm. Yonas dan Rm. Berto dari Caivano, Napoli menulis demikian, “Tadi pagi kami membawakannya dalam misa memohon ketenteraman jiwanya. Semoga Bapa Surgawi dan Bunda Karmel menyambutnya dalam perjamuan kudus.” Konfrater dari Bukit Dieng, lewat Priornya Rm. Eligius Ipong mengungkapkan, “Pagi ini kami telah beribadat pagi dan misa untuk ketenteraman arwah beliau.”

Rm. Nolaskus Harsyantoko di Malang berharap Rm. Inno juga mendoakan kita semua, “Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.” Bapak Kanisius Decky dari Ruteng pun mengungkapkan hal yang sama, “Semoga beliau menjadi pendoa bagi kita semua.” Rm. Sixtus Bhari, dari Curahjati, Banyuwangi (Jatim) mengucapkan terimakasih dan harapannya, “Rm. Inno, terimakasih atas kebersamaan kita di Regio Timur. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.” Dan sangat menarik, sehari sebelum meninggalnya Rm. Ino sempat mengirim sms kepada Rm. Yanto Yohanes Ndona di Mataloko, dengan kata-kata ini, “So nice, thanks as high as mt. Inerie. I’m praying a lot for your success, and auguri to the students.”

 

YEH 16:1-14 – MADAH SALIB – MADAH ROHANI STANZA 28

Para Novis mempunyai kenangan tersendiri. Sebetulnya Rm. Inno sendiri beberapa hari menjelang kematiannya rupanya ia telah mengisyaratkan kepergiannya. Ketika ia masuk kelas di novisiat untuk mengajar untuk pertama dan terakhir kalinya di semester II tahun ajaran 2013/2014 pada Kamis, 23 Januari 2014, ia mengatakan, “Selamat tahun baru dan tahun ini opa tidak akan ganggu kamu lagi.” Dan istimewanya pada hari tersebut, ia menyebut nama para novis satu per satu, tidak seperti biasanya. Ia memang lupa satu nama, frater asal Papua, Victor Tawayok. Tetapi ketika di refter/kamar makan, ia mengatakan, “Saya lupa Tawayok.”

Saat pelajaran hari itu, dia memberikan perhatian khusus pada teks Yeh 16:1-14, Madah Salib: “Salib Suci nan mulia. Kayu paling utama. Tiada yang menandingi, daun bunga buahnya. Kayu paku bahagia, memangku pangkal hidup.” dan Madah Rohani Stanza 28 “Di bawah pohon apel. Di sanalah kau Kuambil jadi kepunyaan-Ku. Di sanalah tangan-Ku Kuberikan kepadamu. Di sanalah kau Kupulihkan.  Di tempat ibundamu dinodai.” Dalam ketiga teks ini, Rm. Ino menyadari kerapuhan kodratnya, kelemahan manusiawinya dan masa lalunya. Tetapi bersamaan dengan itu, ia menatap penuh harapan ke masa depan. Ia

melihat betapa besar kasih Allah akan manusia. Lengan-lengan belaskasih Allah terulur untuk mengangkat manusia, mencucinya bersih dan menyelamatkannya. Pohon apel adalah simbol dosa dan kejatuhan manusia pertama. Kodrat manusia menjadi rusak dan upahnya adalah kematian. Tetapi syukur kepada Allah, berkat pohon salib, kodrat manusia dipulihkan, dan membawa manusia kepada kehidupan abadi. Dan jam-jam menjelang kematiannya, ia berujar, “Saya mau terima Yesus.” Dan akhirnya, di detik-detik  terakhir, ia pun berkata, “Yesus, datanglah”, sambil menghembuskan nafasnya yang penghabisan. SELESAILAH SUDAH. Amin.

Incoming search terms:

  • aditya permana parangin-angin
  • contoh ucapan in memoriam
  • sixtus bhari

Comments are closed.