Karya-Karya Kecil Spiritualitas Karmel

Karmel Indonesia Timur mulai menfokuskan diri pada karya pengembangan Spiritualitas. Semoga dengan karya ini, umat mendapatkan tempat dan sarana pengembangan iman, sekaligus merasakan kehadiran kasih dan persaudaraan dalam Karmel.

Beberapa bentuk karya yang sudah mulai dikembangkan, antara lain:

  1. Pertapaan, oleh Rm. Zakharias Dhena, O.Carm bertempat di Kelikeo
  2. Rumah Retret Mageria, oleh Rm. Thomas Aquio Gheta, O.Carm
  3. Rumah Retret St. Yosep Bedugul Bali, oleh Rm. Yosep Gerungan, O.Carm
  4. Pondok Doa, oleh Rm. Fransiskus Xaverius Bao, O.Carm di Munde, nagekeo, Mbay
  5. Tempat Ziarah dan Gua Maria, oleh Rm. Leonardus Jawa, O.carm di Sumba Barat Daya, Kererobbo
  6. Majalah SUARA KEHENINGAN, oleh Rm. Innocentius, O.carm di Rumah Studi Teologan Weruoret
  7. Redion Voice, oleh Fr. Baldus Gebo, dkk di Wairklau dan Nita
  8. Teater Vigilantia, oleh para Frater Studen di Biara Beato Dionisius- Wairklau
  9. KSSK, oleh para Frater Studen Biara Karmel Beato Dionisius-Wairklau
  10. Karmelit Awam, oleh Rm. Severinus Nuwa, O.Carm dan fr. Andreas Era, O.Carm
  11. Kelompok Skapulir, oleh Rm. Konradus Bata Laki, O.carm di Kloangpopot
  12. Kelompok Meditasi Kristiani cabang Maumere, oleh Rm. Stanis Jenambur, o.Carm di Maumere
  13. Kelompok Meditasi Buka Hati, oleh Fr. Mans Belang, O.Carm

IN MEMORIAM RM. INOSENSIUS DAENG KARWAYU, O.CARM (OPA INO)

Oleh: Rm. Stef. Buyung Florianus, O.Carm.       

Rm. Inosensius Daeng Karwayu, O.Carm, atau biasa disapa Opa Ino meninggalkan kita semua pada hari Minggu, 26 Januari 2014 pada jam 22.15 waktu setempat. Dan hari Selasa, 28 Januari 2014, saat Gereja merayakan peringatan wajib seorang jenius St. Thomas Aquino, imam dan pujangga gereja dan bertepatan dengan hari ulang tahun imamat ke-35 Rm. Inosensius Daeng Karwayu, O.Carm, kita mengantar ke tempat peristirahatan yang terakhir beliau di Taman Makam Karmel “St. Agustinus”, Weruoret, Nita (Maumere). Di saat peringatan malam ke-4, malam “nara krus” (kebiasaan setempat, yaitu malam berjaga semalam suntuk sampai dini hari saat salib ditanam di makam), kita berkumpul kembali untuk mendoakan beliau. Sebagai kenangan akan kebersamaan dengan beliau, saya merangkai kata-kata berikut ini.

Continue reading

Pemakaman Rm. Inocentius Daeng Karwayu, O.Carm

Para konfrater di Komisariat Indonesia Timur mengucapkan banyak terima kasih atas doa-doa kepada konfrater kita Rm. Inocentius Daeng Karwayu yang terlah diapanggil Tuhan pada hari minggu,  sehingga seluruh rangakaian acara berjalan dengan lancar.

Misa pemakaman kemarin (Selasa, 29 Januari) pada pukul 10.00 yang dipimpin oleh Rm. Simon Rande berjalan lancar. Meskipun pada saat perayaan ekaristi requiem sempat turun hujan, namun tidak sampai mengganggu penghantaran jenasah menuju pemakaman St. Agustinus yang terletak di belakang biara Novisiat karmel Weruoret Nita.

Hadir Juga bapa Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Poto Kota yang merupakan teman kelas Rm. Ino Karwayu, O. Carm selagi masih berada di Seminari Toda Belu Mataloko. Dalam Sambutanya Mgr. Sensi menceritakan bagaimana kebersaman yang telah mereka alami selama tujuh tahun di seminari menengah. Ibadat pemakaman dipimpin oleh Rm. Komisaris. Setelah pemakaman seluruh umat diundang untuk makan siang bersama di Biara Novisiat.

Salam n doa In Carmelo

WAWANCARA IMAJINER DENGAN ST. THERESIA LISIEUX

Wawancara Imaginer Dengan Therese de L’enfant Jesus
Oleh: Innocens d Carvalho, O.Carm
SMAK Alvarez Paga (2012)
Tulisan ini saya tuangkan dalam bentuk wawancara imaginer dengan gaya agak relaks berinspirasi padaNovissima Verba, percakapan-percakapan terakhir menjelang kepergiannya ke Surga, dengan ibunda kecilnya Agnes a Jesu, Priorin Karmel, Pauline Martin. Di sana sini akan pembaca temukan beberapa kata dalam bahasa Latin yang familiar dalam komunitas religius. Tulisan ini secara spesial saya persembahkan untuk para Novis Karmel Weruoret yang memilih Teresia Lisieux menjadi pelindungnya. Pewawancara adalah Innocens (seterusnya J) dan Medemoiselle Martin (seterusnya M.M) yang diwawancarai.

 

MARI BERTOLAK KE SEBERANG

Sebuah Refleksi Atas Pertemuan Para Karmelit Komisariat Indonesia Timur
Bersama Prior Jendral Ordo Karmel
Oleh: P. Inno, O.Carm
 
1. Kisah  Awal
Sabtu, 30 Januari 2010, saat para frater dan umat yang hadir pada perayaan Ekaristi pagi itu khusuk berdoa, tiba-tiba seorang ibu melangkah dengan pasti menuju altar sambil menjunjung tas pakaiannya. Pada tangannya tergenggam satu batang lilin bernyala. Ia meletakkan semua barang-barang kepunyaannya di atas meja altar. Persis saat itu liturgipersembahan. Semua mata berubah arah tertuju pada pemandangan unik dan tidak biasa itu. Semua sepakat bahwa itu mengganggu. Satu gerakan alis mata yang memberi komando pun dimengerti untuk mengamankan situasi tak biasa ini. Dua frater berbadan kekar maju langsung mengangkat barang-barang persembahannya dan memindahkan ke belakang. Rasa haru dan kecewa terlihat meliputi wajah ibu berkerudung merah ini. Namun rupanya tak sanggup ia mengadu protes di depan altar itu. Ekaristi berjalan terus. Tiba-tiba rasa harunya pun makin menjadi-jadi hingga terdengar isak tangis. Ia berlutut sambil sesekali mengatur kembali kerudung merahnya.

 

KOMITMEN KARMEL INDONESIA TIMUR

JAWABAN ANGGGOTA ORDO KARMEL KOMISARIAT INDONESIA TIMUR
ATAS SURAT PROVINSIAL PERIHAL PEMAHAMAN TENTANG KOMISARIAT
 
 
1. Alasan membentuk Komisariat Jenderal:
a. Yuridis Konstitusional
Konstitusi Ordo Karmel memberikan kemungkinan untuk mendirikan Komisariat  Jenderal Provinsi baru (bdk. Konst.180 #2; 177 #1; 183; 181 #1).
Komisariat Provinsi Ordo Karmel Indonesia Timur memandang pendirian Komisariat Jenderal atau bahkan Provinsi Ordo Karmel Indonesia Timur sebagai tanda perkembangan atau pertumbuhan sebagaimana alasan untuk hal ini digariskan juga oleh Konstitusi Ordo Karmel bahwa Ordo Karmel membagikan wilayah menjadi provinsi, komisariat provinsi, komisariat jenderal

 

PESONA GUNUNG KELIKE’O

PERTAPAAN ST. PERAWAN MARIA DARI GUNUNG KARMEL – KELIKEO
Oleh Rm. Zakharias Dhena, O.Carm

 

 
 
 
 
 
 
I.       DASAR-DASAR HIDUP PERTAPAAN
a.       PC 9:     
Lembaga kehidupan monastic hendaknya dipertahankan dengan setia dan makin hari makin memancarkan semangatnya yang asli baik di Timur maupun di Barat.
Lembaga ini berjasa luhur selama perjalanan abad dalam gereja dan dalam masyarakat manusia.
Tugas utama para rahib ialah memberikan pelayanan kepada kedaulatan ilahi, pelayanan yang serentak rendah hati dan anggun di balik tembok pertapaan, ilahi dalam kehidupan tertutup, maupun dengan menerima secara sah sejumlah karya di bidang kerasulan atau cinta kasih Kristen.

 

SKAPULIR KARMEL

Asks Mother Mary to Wrap Us in Her Mantle

CASTEL GANDOLFO, Italy, JULY 17, 2011- Benedict XVI today noted that the scapular is a "particular sign of union with Jesus and Mary."
The Pope commented on the use of this devotion when he addressed Polish-speaking pilgrims gathered at the papal summer residence in Castel Gandolfo to pray the midday Angelus.
Saturday was the feast of Our Lady of Mount Carmel, the feast to which the scapular is linked. Simon Stock, general superior of the Carmelite Order, received the scapular in 1251, during an apparition of the Virgin, when she promised special assistance in life and in death to all those who wear it with devotion.
The word scapular originally referred to a form of clothing, which monks wore when they were working. The scapular came to symbolize Carmelite devotion to Mary; the devotion developed over time so that today, the scapular has various forms. 
Benedict XVI referred to wearing the scapular as a "particular sign of union with Jesus and Mary."
"For those who wear it, it is a sign of filial abandonment to the protection of the Immaculate Virgin," he said. "In our battle against evil, may Mary our Mother wrap us in her mantle."
The Holy Father's praise of the scapular while he was greeting the Polish pilgrims brings to mind his predecessor's own devotion to the scapular.
Blessed John Paul II spoke about the sign on the feast of Our Lady of Mount Carmel in 2003. The Polish Pontiff said: "Even I, from my youngest days, have worn around my neck the scapular of Our Lady and I take refuge with trust under the mantle of the Blessed Virgin Mary, Mother of Jesus."