Titus Brandsma dan Keheningan Sel: Inspirasi Kepedulian terhadap Para Tahanan Politik

"Oh, keheningan yang membahagiakan. Aku benar-benar merasa kerasan tinggal di dalam sel yang kecil ini. Sama sekali tidak merasa bosan, bahkan sebaliknya. Aku di sini sendirian, namun belum pernah merasa bahwa Allah sedekat ini denganku. Aku dapat berteriak penuh sukacita karena Allah membiarkan Diri-Nya aku temukan tanpa harus berada di antara atau bersama banyak orang. Kini Dialah satu-satunya pengungsianku dan aku merasa aman serta bahagia. Aku ingin tinggal di sini seterusnya, jika Dia menghendakinya. Aku jarang sekali merasa begitu bahagia dan puas seperti ini."

 

Kata-kata Titus Brandsma di atas, yang ditulis sewaktu ditahan dalam penjara memberikan bahan meditasi yang amat kaya. Pertama-tama, ada penyejajaran yang sangat mengejutkan antara statusnya sebagai tahanan dan optimisme serta rasa syukurnya. Paradoks ini mengundang kita untuk memikirkan adanya sukacita dalam wilayah kehidupan kita yang lebih kerap dihubungkan dengan kesedihan, kegelisahan, dan kekhawatiran.

Contoh dari Titus Brandsma itu mengingatkan bahwa Allah selalu bersama kita dan bahwa Allah itu lebih mudah dijumpai pada waktu kita sedang kalah, susah, atau mengalami kesepian. Sukacita dan rasa syukur itu tidak tergantung pada lingkungan kita, tetapi pada orientasi kita terhadap lingkungan di sekitar kita. Titus Brandsma menunjukkan bahwa menyatukan kehendak kita pada kehendak Allah merupakan langkah awal untuk mengalami damai dan sukacita.

 

Pengalaman dari Titus Brandsma menegaskan bahwa keheningan kerap menjadi salah satu syarat untuk menyadari secara mendalam kehadiran Allah. Hidup kita bisa jadi penuh dengan aktivitas dan tuntutan yang membuat kita sulit berhenti, untuk merefleksi, dan untuk mengucapkan syukur. Kesendirian dalam sel membebaskan Titus Brandsma sehingga dia bisa kembali kepada rumah batinnya dalam Allah, suatu tujuan yang telah diupayakan sepanjang hidupnya sebagai Karmelit.

 

Tanpa kita sendiri harus mengalami tinggal dalam sel penjara, dimanakah ada kesempatan-kesempatan di antara kehidupan kita untuk tenang, hening, dan menaruh fokus perhatan kepada kehadiran Allah? Periode-periode doa harian, retret, dan saat hening bersama alam merupakan metode-metode untuk menenangkan budi yang sibuk dan mengarahkan ke dalam batin demi menemukan Allah yang lama telah mencari kita. Pengorbanan-pengorbanan seperti puasa dan amal membangun disiplin diri yang diperlukan demi memperoleh manfaat dari saat-saat hening.

 

Ruangan kudus biasanya dikaitkan dengan lingkungan-lingkungan yang secara khusus dihubungkan dengan kebaktian, seperti gereja-gereja dan biara-biara, tetapi Titus Brandsma mengajar kita bahwa tidak ada lokasi fisik yang tidak dapat diubah (ditransformasi) menjadi tempat untuk bertemu dengan Yang Ilahi. Dia mengajak kita untuk memperlebar pemahaman kita tentang tempat kebaktian dan mengikuti contohnya dalam menemukan Tuhan, bahkan dalam lingkungan-lingkungan yang kelam dan opresif sekalipun.

 

Akhirnya, kutipan ungakapan Titus Brandsma di atas mengingatkan kita akan keadaan menyedihkan dari para tahanan politik dan semua yang dipenjarakan secara tidak adil di seluruh dunia. Janganlah cepat-cepat menghukum orang-orang tertentu karena berada di luar keselamatan atau menolak kemungkinan bahwa Tuhan dapat ditemukan dalam lembaga-lembaga tertentu yang bisa jadi tergoda untuk membebaskan, seperti penjara, rumah sakit jiwa, dan penampungan penderita AIDS, dan lain-lain.

 

Semoga Titus Brandsma menolong kita menemukan damai dan sukacita Tuhan di dalam "penjara" mana pun, di mana kita menjumpai diri kita.