Selamat Datang di Web O.Carm Indonesia

Berbagi Spiritualitas! Moga kita mencapai persatuan cinta kasih dengan Allah dalam hidup doa, persaudaraan, dan pelayanan.

Bila ada pertanyaan, silakan disampaikan melalui chat! atau kirim email ke Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

PERJUMPAAN

    Tanggal 19-20 Agustus, menjadi hari yang indah bagi Ordo KarmelIndonesia (O.Carm). Dalam dua

Riwayat Singkat St.

AWAL HIDUPNYA Santa Maria Magdalena de’Pazzi lahir pada tanggal 2 April 1566 di Florence (Firenze), anak kedua dari

Triduum Perayaan

Mari kita ikuti Triduum Perayaan 450 Kelahiran St Maria Magdalena de Pazzi Yang bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan

Radio Karmel

Radio Karmel Streaming (RKS) ini terselenggara berkat KASIH dan PERHATIAN ANDA. Terlebih Anda yang

Riwayat Singkat St. Maria Magdalena de Pazzi

AWAL HIDUPNYA
Santa Maria Magdalena de’Pazzi lahir pada tanggal 2 April 1566 di Florence (Firenze), anak kedua dari pasangan Camillo Geri de’Pazzi dan Maria di Lorenzo Buondelmonti. Dia mendapatkan nama permandian Katarina. Inilah nama kecilnya sebelum kemudian diubah menjadi Maria Magdalena setelah masuk biara.


Sejak kecil Katarina sudah memiliki minat yang besar terhadap hidup doa. Ibunya kerapkali menemukannya sedang berlutut di sudut ruangan atau di balik pintu dengan tangan terkatub, berdoa. Kebiasaan berdoa ini tidak terganggu meskipun keluarganya sering mengadakan pesta dengan berbagai macam pertunjukan. Setiap kali keluarganya mengadakan pesta, Katarina lebih memilih untuk menyendiri dan berdoa. Dia tidak mau melebur dalam hiruk pikuk kegembiraan pesta.

Salah satu aktivitas yang sangat disukainya adalah pergi ke tempat yang jauh dari keramaian kota. Dia sering dibawa oleh keluarganya berlibur ke Villa Paraguino di kaki gunung Murlo. Katarina sungguh-sungguh menikmati kesunyian dan keheningan alam di tempat tersebut. Di situ dia mendapatkan kesempatan lebih banyak lagi untuk berdoa. Rupanya jiwanya sudah ditarik untuk menikmati suasana hidup dalam keheningan, untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan Tuhan.

Katarina juga senang melakukan tindakan amal kasih. Ketika berusia 7 tahun, dia bersekolah di sebuah sekolah milik suster-suster hina dina. Setiap hari dia mendapatkan bekal sarapan dan makan siang dari rumah, namun bekal tersebut tak pernah dimakannya sendiri. Dia membagi-bagikan bekalnya ini kepada orang-orang miskin dan terutama mereka yang ada di penjara. Demikian pula ketika berada di rumah dan mendengar ada pengemis yang meminta sesuatu, dengan senang hati dijumpainya si pengemis dan diberinya sesuatu. Sr. Mary Minima, seorang penulis biografinya, menggambarkan Katarina sebagai pribadi yang dikobarkan oleh dua nyala cinta dari sebuah api yang sama, yaitu kobaran nyala cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama.

Katarina senang mendengarkan percakapan rohani antara ibu dan bibinya. Percakapan mereka menjadi informasi yang menarik untuk didengar dan dicermati. Bahkan, seringkali dia harus sembunyi-sembunyi mendekati kedua orang tersebut hanya demi mendengarkan percakapan rohani di antara mereka. 
Dia juga sangat senang mengumpulkan teman-teman kecilnya dan mengajar mereka tentang tanda salib, Bapa Kami, Salam Maria dan Aku Percaya. Dia juga banyak bercerita kepada mereka tentang Yesus Kristus dan tentang penderitaan yang ditanggung oleh Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia untuk membawa kepada anugerah Surga. Sebagai upaya membuat teman-teman kecilnya ini mau berkumpul, Katarina sering memberi mereka hadiah.

DI BIARA SANTO YOHANES
Suatu ketika, ayahn Katarina mendapatkan tugas di Cortona dan mesti meninggalkan Florence. Sementara ibu dan saudara-saudaranya ikut pindah bersama ayahnya. Atas nasihat Rm. Peter Blanca, Katarina di titipkan di biara St. Yohanes (Little St. John’s of the Knights). Pada saat itu usia Katarina tepat 14 tahun dan berada di sini selama 15 bulan. Di sini, Katarina tidak hanya sekedar menumpang tinggal, tetapi mengalami keseluruhan aktivitas para suster dalam hidup membiara.

Katarina sangat menikmati hidup di biara tersebut. Selama berinteraksi dengan Katarina, para suster dalam biara tersebut menemukan keutamaan-keutamaan Katarina kecil yaitu keutamaan doa dan devosi, keutamaan kerendahan hati dan keutamaan kelembutannya.

Katarina mengisi waktu-waktu bebasnya untuk menyendiri dalam kamarnya untuk berdoa dan itu membuatnya begitu bahagia. Dalam pergaulan dengan para suster di biara itu, keliahatn sekali Katarina sangat menghormati pribadi-pribadi lain dan menghindari berbagai gosip tentang orang lain. Dia juga  mudah tersentuh oleh rasa belas kasih terhadap mereka yang sakit. Dia gemar mengunjungi dan menghibur mereka dengan kata-kata yang penuh kasih dan yang meneguhkan. Tak hanya mereka yang sakit yang merasakan kelembutan hati Katarina, tetapi juga mereka yang sehat. Katarina membuat orang lain bisa nyaman ada bersama dengannya.

Setelah 15 bulan, Katarina dibawa kembali ke rumah oleh orangtuanya. Dia mulai mengalami pergulatan untuk memeluk hidup membiara. Walaupun kedua orangtuanya termasuk orang-orang yang saleh, namun mereka tidak begitu berkenan akan keinginan Katarina ini. Namun demikian, Katarina masih terus berjuang mengikuti gerakan batinnya, memeluk hidup membiara, hingga akhirnya dia mendapatkan persetujuan kedua orangtuanya.
Dari beberapa biara yang dia pertimbangkan dalam refleksi dan doa-doanya, akhirnya dia memilih Biara Karmelites Santa Maria Degli Angeli (Santa Maria dari Para Malaikat). Di masa itu,  ada satu keistimewaan bagi komunitas karmel ini, yaitu para susternya diijinkan untuk menerima komuni setiap hari.

DALAM BIARA KARMEL
Komunitas Karmel Santa Maria Degli Angeli pada jaman itu dikenal sebagai komunitas suster-suster Karmel yang memunculkan banyak orang kudus. Komunitas ini memiliki catatan profil perjuangan hidup suster-suster yang sudah meninggal. Dengan catatan yang selalu dibacakan bagi komunitas ini, anggota komunitas memiliki sumber inspirasi dan teladan nyata, yang pernah berjuang menuju kekudusan hidup di dalam komunitas mereka. 
Sebelum definitif menjadi anggota komunitas Biara, Katarina diberi kesempatan menjalani masa percobaan selama 15 hari di komunitas ini. Di sini Katarina menemukan sebuah kehidupan yang sangat sesuai dengan keinginannya. Di situ terdapat waktu yang panjang untuk berdoa, penghayatan kemiskinan dalam berbagai hal, cocok untuk menjalani matiraga, kebiasaan hening selama bekerja, dan lain-lainnya.

Para suster yang memperhatikan cara hidup Katarina menemukan kualitas pribadi Katarina yang memang sesuai dengan kharisma hidup membiara: bisa menikmati dan mencintai keheningan serta hidup doa biara. Priorin (kepala biara) memberi kesaksian bahwa Katarina sudah memiliki kedewasaan hidup rohani, sehingga diyakini bisa memeluk model hidup membiara seperti di Biara Karmel Maria dari para Malaikat.

Masa percobaan selama 15 hari telah berakhir dan Katarina harus kembali ke keluarganya. Dia bersama dengan keluarganya diberi kesempatan untuk mempertimbangkan kembali keputusan memasuki hidup membiara.  Bagi Katarina, 15 hari ini telah membawa kesan sangat mendalam. Dia betul-betul menikmati kehidupan komunitas dan semua latihan rohani di dalamnya. Hingga akhirnya dia jatuh hati dengan biara karmel tersebut dan tetap pada keputusannya semula, menjawab panggilan Tuhan melalui hidup membiara.

Tanggal 1 desember 1582, Katarina  kembali ke komunitas biara Karmel Santa Maria dari Para Malaikat. Hatinya sudah mantap dengan pilihan hidup membiaranya. Dia pun memasuki biara Karmel dengan penuh sukacita. Berdasarkan keputusan rapat biara tanggal 8 desember 1582, upacara penerimaan bagi Katarina dilakukan secara resmi pada tanggal 30 Januari 1583.
Pada hari Minggu, 30 Januari 1583 itu Katarina menerima pakaian kebiaraan dan sekaligus mengenakan nama baru Maria Magdalena. Selama upacara pengenaan pakaian biara, Katarina benar-benar terserap dalam kehadiran ilahi yang membuatnya begitu bahagia. Ketika penerimaan salib, Katarina juga merasakan sesuatu yang luar biasa indah dan begitu manis baginya: jiwanya terserap karena kekasih ilahinya ada bersamanya, menyatu dengan jiwanya.
Selama masa novisiat, Magdalena de’Pazzi menampakkan keutamaan-keutamaan hidup membiara yang begitu indah. Dia berusaha menjaga semangat hidup kebiaraan dengan baik dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku. Dia punya keyakinan, “dalam menjalankan apa yang disyaratkan oleh regula, kebiasaan yang ada dalam biara atau ketaatan kepada pimpinan biara, kita yakin sedang menjalankan kehendak Allah.” Bagi para biarawati yang lain, termasuk magistranya, dia adalah teladan bagaimana melatih diri dalam hidup rohani dan menghidupi hidup membiara dengan baik. 
Maria Magdalena de’Pazzi begitu mencintai hidup membiaranya dan dengan sarana ini dia ingin segera bersatu dengan Allah. Oleh karena itulah, pada saat beberapa suster yang telah menyelesaikan masa novisiat mereka hendak mengucapkan kaul, Magdalena juga ingin mengucapkan kaul bersama mereka. Padahal dia belum menyelesaikan masa novisiatnya. Pemimpin novis tidak mengijinkannya mengucapkan kaul. Menurut tata aturan yang berlaku, seorang novis harus menyelesaikan waktu satu tahun penuh masa novisiatnya baru diperkenanakan mengucapkan kaul.

Magdalena de’Pazzi menyelesaikan masa satu tahun novisiatnya, tetapi pimpinan tidak mengijinkannya mengucapkan kaul sendiria. Dia diharapkan menunggu beberapa teman lain yang beberapa bulan lagi menyelesaikanmasa noovisiat mereka. Dalam proses penantian itu, tanggal 1 Maret 1584, Maria Magdalena de’Pazzi menderita sakit.  Keluarganya mengirimkan tiga dokter untuk memeriksa, namun tidak bisa menemukan penyakit yang dideritanya dan akhirnya meminta mereka semua menyerahkan segalanya ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Karena situasi inilah maka pada tanggal 27 Mei 1584, tepat pada hari raya Tritunggal Mahakudus, Suster Maria Magdalena de’Pazzi diijinkan mengucapkan kaul kekalnya. Dia mengucapkan kaul kekal dari atas tempat tidur yang dibawa di depan altar Maria, dalam perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Agustinus Campi.

PENGALAMAN-PENGALAMAN EKSTASE
Sejak hari kaul kekalnya  hingga 6 Juli 1584, empat puluh hari berturut-turut, Maria Magdalena de’Pazzi menerima anugerah ekstase. Ekstase itu terjadi, setiap pagi sesudah menerima Sakramen Mahakudus. Pengalaman ekstase dalam masa ini, didokumentasikan dengan sebutan Quaranta Giorni (empat puluh hari). Di hari kaul kekalnya, pengalaman ekstase membawanya masuk ke dalam misteri persatuan dengan Allah melalui ketiga kaulnya: kemurnian merupakan salah satu ekspresi ikatan dan sarana penyatuan yang paling mendekatkan jiwa dengan Allah, ketaatan memungkinkannya dipersatukan dan dihubungkan dengan Kristus kekasihnya, dengan kemiskinan dia dipersatukan dengan Roh Kudus.

Tanggal 16 juni 1584, Maria Magdalena de’Pazzi sembuh dari penyakitnya setelah Pastor Agustinus Campi mengajaknya pergi mengunjungi makam Venerabilis Maria Bagnesi. Penyembuhan itu dianggap sebagai buah doa dari Venerabilis Maria Bagnesi dan Maria Magdalena sendiri akhirnya begitu menghormati Maria Bagnesi ini. 

Setelah pengalaman beruntun selama 40 hari ini, Maria Magdalena de’Pazzi masih terus menerus menerima pengalaman-pengalaman mistik melalui ekstase, visiun atau pun mendengar kata-kata Allah. Melalui pengalaman-pengalaman ini, dia mendapatkan banyak pewahyuan yang mengarahkannya untuk semakin meniadakan keingingan-keinginan dirinya, menjadi semakin rendah hati dan membiarkan Allah sendiri bekerja dalam diri dan hidupnya sesuai apa yang dikehendaki-Nya. Pelan-pelan Maria Magdalena dibimbing menuju persatuan dengan Allah.

Selain Quaranta qiorni, ada buku  “I Colloqui” yang mencatat pengalaman-pengalaman ekstase yang lain lagi. Melalui pengalaman-pengalaman ini Maria Magdalena dibawa masuk ke dalam pemahaman akan hidup ilahi Allah dan berbagai hal tentang karya keselamatan Allah. 

Pada tanggal 24 maret, dia mengalami ekstase yang di dalamnya tampil St. Agustinus yang menuliskan pada hatinya tulisan “Verbum Caro factum Est” (Sabda telah menjadi daging), kata “Sabda” ditulis dengan emas dan “telah menjadi daging”, ditulis dengan darah Yesus. Emas dan “Sabda” adalah lambang keilahian sementara “daging” adalah lambang kemanusiaan yang telah memberi kita darah . Dengan ini, Maria Magdalena mendapatkan banyak peneguhan karena Yesus menanggung kesengsaraan kemanusiaan dengan menumpahkan darah-Nya.  Yesus mengajaknya untuk meluhurkan misteri inkarnasi diri-Nya, Sang Sabda yang menjadi manusia.

Tanggal 8-15 Juni, malam Pentakosta sampai dengan hari raya Tritunggal Mahakudus, Maria Magdalena kembali mendapatkan anugerah ekstase tak terputus selama 8 hari. Dalam ekstase-ekstase ini salah satunya dia menerima peneguhan dari Allah melalui anugerah Roh Kudus. ROH KUDUS itu dinyatakan sebagai SUMBER AIR yang memberi air kehidupan; BURUNG MERPATI yang hinggap di setiap hati yang dipenuhi kebenaran, belas-kasih, keadilan, kebijaksanaan; API yang membakar tetapi tidak memakan semak dan yang menjadi cahaya dunia; seperti LOH BATU MUSA, yang membawa hukum dan menyempurnakannya dalam kesatuan Tritunggal. Dibawah bimbingan Roh Kudus ini, dia menghidupkan kembali seluruh peristiwa penyelamatan dan sekaligus juga dipersiapkan untuk memasuki “sarang singa”.

Mulai 16 Juni 1586-10 Juni 1590, Maria Magdalena de’ Pazzi masuk dalam periode “sarang singa”. Allah memberikan kepada Maria Magdalena masa pencobaan yang cukup lama, selama lima tahun. Dalam masa ini dia mengalami pencobaan-pencobaan yang sangat berat dan penderitaan roh. Seperti halnya Daniel yang dimasukkan ke dalam gua singa, Maria Magdalena dihadapkan pada kekuatan setan yang mencobainya, menakut-nakutinya dengan kehadiran yang kasat mata, bahkan dengan mengganggunya secara fisik. Selama ini pula kehidupannya terasa penuh dengan kesalahan. Dia diuji komitmennya terhadap kesucian. Dia sampai mengalami keraguan akan panggilan hidupnya sebagai biarawati. Bahkan, dia juga tergoda untuk lari dari biara dan bunuh diri.

Di tengah situasi itu, Allah tetap mendampingi dan meneguhkannya, “Jangan takut, meskipun musuh-musuhmu menjadi kuat, kamu masih akan tetap setia. Dan bahkan kalaupun mereka mendatangimu seperti binatang yang sangat kuat, janganlah takut. Dan jika mereka tampak sebagai ular yang banyak, kamu masih akan mampu mengusir mereka.” Sesudah peristiwa-peristiwa pencobaan semacam itu, Allah senantiasa memberinya rahmat Roh Kudus yang menguatkan dan meneguhkannya. Pada pesta Roh Kudus, 10 Juni 1590, dia terbebaskan dari “sarang singa”.

Satu hal lagi tema yang penting dalam ekstase Maria Magdalena de’ Pazzi adalah tema berkaitan dengan reformasi Gereja dan khususnya hidup religius. Pesan pembaharuan ini didapatkannya dalam beberapa ekstase yang terjadi mulai 20 Juli hingga Oktober 1586. Dalam kurun waktu itulah dia berbicara dan juga menuliskan surat-surat kepada banyak tokoh Gereja yang temanya tentang kebutuhan mendesak akan pembaharuan Gereja dan kehidupan religius atau membiara. 
Pada 6 Juni 1604 pada Perayaan Roh Kudus, St. Maria Magdalena de’ Pazzi mengalami ekstase yang memuat pewahyuan tentang adanya jiwa-jiwa yang bekerja seperti layaknya mengikat jerami dan tidak bekerja demi batu karang yang berharga dan pilar-pilar yang kokoh. Jerami hanyalah untuk dibakar dan meninggalkan abu. Bekerja mengumpulkan dan mengikat jerami adalah layaknya pekerjaan yang sia-sia dan hanya mengandalkan tujuan manusiawi belaka, bukan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Walaupun dia yang bekerja di demi tujuan ini kelihatannya menang dan mendapatkan penghargaannya, namun Roh Kudus tidak lama berdiam di dalam dia.

Roh Kudus akan datang dengan rahmat yang penuh dan tinggal dalam jiwa-jiwa yang bekerja dalam kerasnya batu karang keutamaan-keutamaan yang riil dan solid, kerendahan hati, peniadaan diri sendiri dan segala ciptaan, kemiskinan, kemurnian dan menundukan kehendak mereka pada kehendak Tuhan sendiri dan kepada pimpinan mereka.
Dalam ekstase pada tanggal 24 Juni, Maria Magdalena de’ Pazzi meminta buku dan ketika diberi buku ibadat harian dia menolaknya karena itu bukan bukunya, Kemudian diberi salib dan menyatakan, itulah bukunya. Dia bicara banyak tentang salib dan penderitaan dalam ketelanjangan.

Walaupun masih muda, namun kualitas hidup rohani, hidup kebiaraan dan kebijaksaan Maria Magdalena De’ Pazzi sudah diakui oleh anggota-anggota komunitas. Oleh karena itulah dia dipercaya memegang beberapa tanggungjawab tugas kebiaraan seperti: asisten magistra (Oktober 1589 s/d 1592), sakristan (Oktober 1592 s/d 1595), pendamping yuniorat (Oktober 1595 s/d 1598), magistra (Oktober 1598 s/d 1604), sub priorin (Oktober 1604 s/d meninggal).

AKHIR HIDUP
Beberapa waktu sesudah dipilih menjadi sub priorin, Maria Magdalena menderita sakit. Ini memulai lagi penderitaan fisik dan moralnya selama tiga tahun. Pada 13 Mei 1607 dia menerima sakramen pengurapan orang sakit dan akhirnya pada tanggal 25 Mei meninggal dunia. Selama sakrat maut, para suster yang menemaninya mendaraskan pengakuan iman St. Athanasius, pengakuan iman atas Tritunggal yang telah membuat Maria Magdalena  de’Pazzi mengalami ekstase di tahun-tahun awal kehidupannya. Dia meninggal pada usia 41 tahun, satu bulan dan 23 hari.

Setalah kematiannya, para suster di biaranya, masih merasakan kehadiran St. Maria Magdalena de’ Pazzi. Mereka yakin Suster Maria Magdalena de’ Pazzi masih bersama mereka. Selama itu pula banyak kejadian terjadi, termasuk mukjijat-mukjijat melalui Maria Magdalena de’Pazzi, misalnya kesembuhan Ibu Maria Rovai pada bulan Mei 1607; kesembuhan Suster Maria Magdalena Berti pada tahun 1608 setelah di tandai dengan relikui St. Maria Magdalena de’ Pazzi oleh Fr. Puccini;  kesembuhan Suster Maria Vincentia Dati; kesembuhan duta besar Lucca untuk Tuscana, Antonius Lamberti, dll.

Ketika diangkat dari kubur untuk ditempatkan di di biara, jenasah Santa Maria Magdalenda de’ Pazzi tidak rusak. Sekarang tersimpan di biara Santa Maria Magdalena de’ Pazzi di Careggi, Florence. St. Maria Magdalena de Pazzi di kanonisasi pada 28 April 1669 oleh Paus Klemens X. Perayaannya kita rayakan pada tanggal 25 Mei, tepat pada hari kematiannya.

(Jaya, O.Carm)

Karmelit itu BERDOA

 
Spiritualitas Karmel yang pertama adalah BERDOA. Maka, seorang karmelit tidak bisa melepaskan diri dari berdoa. Berdoa adalah dasar dari hidup setiap beriman, khususnya para karmelit. Seorang karmelit tidak akan hidup tanpa berdoa.

Karmelit itu BERSAUDARA

 
Spiritualitas Karmel yang kedua adalah Hidup dalam persaudaraan. Bila seorang sungguh ingin hidup bersaudara maka perlu memiliki beberapa keutamaan dalam hidup yang harus diperjuangkan dan dijalaninya. Keutamaan untuk mau menerima orang lain apa adanya, mau memaafkan dan menjadi pribadi yang rendah hati.

Karmelit itu MELAYANI

 
Spiritualitas Karmel yang ketiga adalah pelaayanan atau hidup di tengah-tengah orang yang membutuhkan pertolongan. Seorang karmelit perlu terus belajar memiliki belas kasih, seperti Yesus yang selalu berbelas kasih. Dan itu semua mengalir dari doa dan persaudaraan.